sahabat | Anugrah Terindah
Home | About
Serach:  
Explore Your Friendship...
 
Jun
05
    
Tujuan Pendidikan Islam
Posted (bud's) in Education on June-5-2007

Sebuah renungan untuk Pendidik

Pengantar

Pendidikan Islam, walaupun mencapai kemajuan dalam bidang sarana, namum kwalitasnya dirasakan belum memenuhi keinginan ummat. Kemerosotan itu disebabkan oleh berbagai faktor, satu diantaranya adalah ketidak fahaman terhadap tujuan Pendidikan Islam. Sebagian pendidik dan lembaga pendidikan berpandangan bahwa tujuan pendidikan adalah menyampaikan ilmu pengetahuan. Akibatnya semua usaha pendidikan hanya ditujuan untuk mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.

Disamping itu terdapat pula anggapan bahwa yang dinamakan Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), sehingga berkembang angapan bahwa ilmu-ilmu selain ilmu keislaman bukanlah merupakan garapan Pendidikan Islam. Akibatnya tujuan lembaga Pendidikan Islam terbatas pada pangajaran ilmu-ilmu syari’ah.

Tulisan ini mencoba mengemukan tujuan Pendidikan Islam agar kesalah pahaman tersebut akan dapat diperbaiki, dan Pendidikan akan dapat berkembang sejalan dengan tujuan hakiki Pendidikan Islam yang sesuai dengan kehendak ajaran Islam.

Tujuan

Tujuan merupakan fitrah yang telah melekat dalam diri setiap insan. Tidak ada tindakan manusia yang tidak mempunyai tujan. Sesungguhnya perbuatan seorang yang ia lakukan tanpa sadar mempunyai tujuan, walupun ia tidak mengetahui tujuan itu. Abdur Rahman Al-Qalawi, Ushul Tarbiyah al-Islamiyah, Kairo, Darul Fikril Arabi, hal. 96

Seorang yang sedang tidur akan menarik tangannya bila ditusuk dengan jarum. Tujuannya adalah mempertahankan diri, atau berkeinginan untuk hidup.

Biasanya, semua orang yang sadar dan berakal, selalu memikirkan tujuan setiap tindakannya. Bila ia menyadari tujuan tindakannya, akan terdorong untuk melakukan perbuatan itu. Seandainya seorang menempuh sebuah jalan tanpa mengetahui sebab ia harus melewati jalan tersebut, dia tidak akan antusias lewat di jalan itu. Tapi bila ia mengetahui bahwa di ujung jalan itu ada kebun yang indah, pemiliknya ramah dan akan mengajak setiap orang yang lewat di depan kebun itu untuk makan di pinggir kolam yang ada di kebun itu, sedangkan orang yang lewat ini sedang kelaparan, maka pasti orang tersenut akan terdorong dan bersemangat melewati jalan tersebut.

Demikian pula dalam semua bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Seorang mahasiswa akan belajar dengan tekun sepanjang tahun, bila dalam benaknya selalu terbayang apa tujuan yang akan ia capai dengan pendidikan tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga mencapai tujuan yang ia idam-idamkan.

Disamping itu tujuan juga akan mengarahkan proses sebuah kegiatan. Bila tujuan tergambar, seorang akan dapat menentukan langkah, menentukan cara dan menentukan apa yang akan diperbuat ke arah tujuan itu.

Kebutuhan terhadap tujuan

Disamping hal yang kita utarakan di atas, kebutuhan sistim dan lembaga Pendidikan Islam terhadap tujuan disebabkan oleh dua masalah penting lainnya, yaitu:

1. Sistim pendidikan yang berkembang di negara-negara Islam adalah sistim yang diimpor dari model Eropah dan Amerika. Sistim tersebut tidak serasi dengan budaya dan kebiasaan ummat di negara ini. Disamping itu sistim tersebut masuk ke dalam negara Islam sebagai bagian dari kekuasaan kolonialis, yang otomatis tujuannya sesuai dengan tujuan ekonomis kolonial itu, dan sesuai dengan dominasi politik kelompok-kelompok terdidik dan pemerintahan negara penjajah itu. Penjajah melalui sekolah yang mereka siapkan berusaha untuk melatih orang-orang terjajah untuk melakukan peran-peran penjajah. Walaupun penjajahan fisik berakhir, namun sistim pendidikan belum banyak mengalami probahan. Kurikulum, malah bahasa di sebagian negara Islam misalnya, masih sama dengan zaman pemjajahan. Malah hubungan kebudayaan antara negara bekas jajahan dengan ngara penjajah lebih kuat dibadingkan dengan zaman penajajahan. Dr. Majid Arsan Al-kailani, Ahdaf At-Tarbiyah Al-islamihah, Madinah, Maktabah Darut-Turast, 1988, hal 35.

Kekhawatiran kita terhadap budaya Barat bukan berarti kita menutup diri dari semua budaya ini, tapi kita harus mempelajarinya dengan hati-hati dan kritis, dan menganggapnya sebagai salah satu informasi. Untuk mengatasi kesensitipan interaksi budaya itu dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal: (a) siapa yang kita pilih untuk berinteraksi itu; (b) pada umur berapa mereka kita bolehkan berinteraksi; dan (c) di mana tempat interaksi itu dilakukan.

2. Sebab kedua adalah bahwa sistim pendidikan di negara Islam masih merupakan penceplakan terhadap model pendidikan lama yang berkembang di negara-negara Islam. Pendidikan model lama itu belum memahami tujuan Pendidikan Islam dan tidak pula menghayati hubungan tujuan dengan proses pendidikan. Tujuan satu-satunya yang terlihat dalam pendidikan lama ini adalah mentranformasikan budaya orang tua kepada anak-anaknya tanpa melakukan pengembangan dan tanpa memperhatikan kebutuhan masa depan anak tersebut. Hal ini sama dengan apa yang diungkap Allah dalam surat Az-zuhruf ayat 22.

Oleh sebab itu kurikulum yang diberikan kepada anak-anak saat ini sama dengan apa yang diberikan pada masa yang lalu tanpa memperhatikan perbedaan kebutuhan saat ini dan masa yang lalu dan tanpa memperbadingkan probelma yang dihadapi oleh ummat masa kini dengan problema mereka masa lampau. Ibid, hal 39

Akibat ketidak pahaman tujuan ini lahirlah keterbelakangan di berbagai lembaga pendidikan Islam, baik dalam bidang kurikulum ataupun dalam bidang metode. Dan yang lebih naif lagi timbulnya dualisme, atau dikhatomi dalam sistim pendidikan kita saat ini.

Tujuan Pendidikan Islam

Bila kita ingin berbicara tentang tujuan Pendidikan Islam, kita harus melihat tujuan hidup manusia di dunia ini. Tujuan itu tertera dalam Surat Az-Zaiyat ayat 56.

“Aku jadikan Jin dan Manusia itu untuk beribadah kepadaku”.

Beribadah itu jugalah yang menjadi tujuan yang akan dicapai oleh Pendidikan Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah “bagaimana merealisasikan ubudiyah lillah dalam kehidupan insan, baik seca individu ataupun kelompok”.Dr. Hamid Mahmud Ismail, Min Ushul Tabiyah fil Islam, Shan’a, Wizarah Atbiyah wa At-Ta’lim, l986, hal. 98

Ibadah yang dimaksudkan di sini bukanlah terbatas pada ritual-ritual Islam, seperti shalat, shiyam dan zakat, tapi lebih luas dari itu. Ibadah dalam pengeritan bahwa seseorang hanya menerima seluruh masalah kehidupannya dari Allah SWT, dalam arti bahwa ia terus menerus dalam hubungan dengan Allah SWT. Shalat, shiyam, zakat tidak lebih dari miftah ibadah/kunci ibadah, atau sebagai halte tempat menambah perbekalan bagi seorang yang sedang mengembara. Ibid, hal. 98

Sesunggunya seluruh perjalanan, mulai dari bidayah, sampai kepada nihayah adalah ibadah. Ibadah dalam pengertian seperti ini mencakup seluruh kehidupan manusia, tidak terbatas pada waktu pendek yang dipergunakan untuk ritual itu saja. Kalau itu yang dimaksud dengan ibadah oleh ayat 56 surah Azzariyat itu, tentu ayat itu tidak mempunyai makna yang mendalam. Apa artinya waktu yang babarapa menit untuk ritual itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita yang panjang itu ! Hampir ia tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Ayat ini baru mempunyai makna penting bila ibadah dijadikan manhaj hayah/sistim kehidupan manusia ini, dan bila ibadah itu menjadi cara berbuat, dan cara berfikir insa tersebut. Dalam arti bahwa semua perbuatan manusia harus kembali kepada Allah.

Membentuk hubungan hati manusia dengan Allah SWT, dan mendorong hati manusia untuk kembali kepada Allah pada setiap saat adalah kaedah pokok Pendidikan Islam. Dengan kaedah inilah semua masalah dilaksanakan. Tanpa kaedah ini segala perbuatan di dunia tidak mempunyai arti.

Oleh sebab itu, tujuan Pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan lainnya, yaitu membentuk muslim yang beramal shaleh. Dalam arti bahwa manusia yang ingin diciptakan oleh Pendidikan Islam adalah insan yang dalam semua amalnya selalu berhubungan dengan Allah SWT.

Amal Shaleh

Dilihat dari implimentasinya, amal shaleh dapat dibagi kepada amal agama yang shaleh, amal sosial yang sholeh dan amal alami atau kauni yang sholeh. Namun bila dilihat dari pengaruhnya, amal shaleh dapat dikatagorikan kepada dua kelompok:

Pertama. amal yang mendatangkan kemanfaatan dan keredhaan Allah.

Kedua. amal yang bertujuan menghindarkan kemudharatan dan menjauhkan kemarahan Allah.

Individu yang melakukan kedua bentuk amal shaleh itu desebut sebagai shaleh-mushlih. Sedangkan yang hanya melakukan yang pertama saja disebut dengan shaleh. Melakukan salah satunya belumlah memadai, sebab yang pertama diperlukan untuk pengembangan dan kemajuan, sedangkan yang kedua adalah untuk menghalangi sebab-sebab kemufsadatan dan keterbelakangan. Ibid, hal. 49.

Pendidikan Islam berusaha untuk menciptakan manusia yang shaleh dan mushlih itu, dalam arti berusaha menciptakan insan yang akan berusaha melakukan kedua sisi amal shaleh tersebut. Hal ini disebabkan penegasan Allah dalam surat Al-Anfal ayat 25 yang mengatakan bahwa kehancuran tidak akan menimpa ummat yang anggotanya shaleh dan mushlih, tapi masyarakat yang anggotanya hanya shaleh saja akan dihadapkan kepada kehancuran.

Bagaimana Menciptakan individu yang beramal shaleh?

Pertanyaan yang muncul bagaimana cara Pendidikan Islam menciptakan individu yang beramal shaleh ? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memberikan defenisi amal dan bagaimana menciptakan amal itu.

Amal dalam Pendidikan Islam adalah semua gerak yang diiringi dengan niyat. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itau mempunyai niat”. Setiap gerakan tanpa niat (tujuan) tidak dinamakan amal. Bila dikhususkan kepada manusia, maka setiap gerak yang bertujuan mendatangkan kemanfaatan atau menghindarkan kemudharatan (keburukan) dinamakan oleh Al-Quran sebagai amal. Sedangkan gerak tanpa tujuan disebut Al-Quran sebagai jiryan (peredaran), seperti peredaran matahari dan bumi.

Dengan demikian, amal adalah gerak dan tujuan, atau dalam ungkapan lain kudrah dan iradah (kemampuan dan keinginan). Bila ada kemampuan dan ada pula keinginan maka akan tercipta amal.

Kudrah dapat berarti tenaga (thaqah) yang terdapat pada manusia dan hewan. Ia dapat pula berarti kemampuan untuk menundukkan alam. Ini hanya dipunyai oleh manusia. Kudrah dalam pengertian inilah yang akan diarahkan oleh Pendidikan Islam. Kemampuan untuk menundukkan ini adalah perkawinan antara kemampulan akal dengan pengalaman dan keahlian manusia dalam bidang agama, sosial dan kauni.

Sedangkan Iradah adalah keinginan individu terhadap tujuan-tujuan tertentu. Iradah ini juga suatu hal yang membedakan manusia dengan hewan.

Atas dasar ini, maka Pendidikan Islam memusatkan perhatiannya kepada pembentukan individu Muslim agar melakukan amal sholeh dalam dirinya, yaitu dengan mengembangkan kemampuan akal sampai ketingkat kematangan dan keahlian baik dalam bidang agama, sosial maupun kauni. Dalam kalimat yang lebih tergas, tujuan utama Pendidikan Islam adalah menciptakan muslim yang shaleh yang oleh banyak ulama digariskan dalam sepuluh ciri, yaitu Said Hawa, Fi Afaq At-Ta’alim, Kairo, Maktabah Wahbah 1980, hal 32:

1. Berbadan sehat
2. Berakhlak baik
3. Berwawasan luas
4. Berkesanggupan berusaha
5. Berakidah lurus
6. Beribadah benar
7. Bertekad tinggi
8. Berjaga-jaga terhadap waktunya
9. Bermanfaat bagi orang lain
10. Berketeraturan dalam semua amal

Penutup

Dari uraian di atas kita dapat mengatakan bahwa Pandidikan Islam adalah pendidikan yang syumul, yang mencakup semua segi pendidikan, baik akal, wujdan dan jasmani, atau kognitif, afektif dan psikhomotorik. Dengan demikian tujuan pendidikan juga akan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Bila individu muslim berhasil dididik menjadi manusia-manusia shaleh dan muslih, maka keluarga muslim akan tercipta dengan sendirinya, dan selanjutnya keluarga tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan masyarakat muslim yang baik.

Konsep Pendidikan Islam Konsep Mohammad Natsir

“Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu beberapa contoh yang diberikan Allah. Karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan Rasul. Qur’an adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al `Imran 137-138]

Mohammad Natsir menyatakan bahwa kemajuan dan kemunduran tidak tergantung kepada ketimuran dan kebaratan, tidak tergantung kepada putih, kuning atau hitamnya warna kulit, tetapi bergantung kepada ada atau tidak adanya sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan dalam suatu ummat, yang menjadikan mereka layak atau tidaknya menduduki tempat yang mulia di atas dunia ini. Ada atau tidak adanya sifat-sifat kesanggupan itu bergantung kepada pendidikan jasmani dan rohani yang diterima seseorang.

Beliau juga menekankan kepada ibu bapa tentang amanah Allah agar mendidik dan memimpin anak-anak ke jalan yang benar. Kedudukan sebagai ibu bapa harus bertanggungjawab penuh atas nasib anak-anak. Di samping itu, kedudukan sebagai ummat Islam wajib mempersiapkan pendidikan dari kalangan ummat sendiri. Beliau menyatakan untuk tidak menyerahkan pendidikan anak-anak kepada mereka yang tidak sehaluan, tidak seiman dan tidak seagama dengan ummat Islam. Meskipun kaum Kristen di Indonesia sangat giat membangun sekolah, membuka pintu untuk anak-anak muslim dengan kemudahan-kemudahan bea-siswa dan lainnya, tetapi ummat Islam harus mempertahankan aqidah anak-anak dengan mendidik mereka melalui cara-cara yang islami. Beliau menyampaikan peringatan Allah dalam Qur’an:

“Alangkah sukanya ahli kitab, jika mereka dapat mebelokkan kamu kembali kepada kekafiran, sesudah kamu beriman (kepada Muhammad) karena kedengkian yang timbul dari mereka sendiri, setelah kebenaran nyata bagi mereka. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan printah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [al-Baqarah 109]

Beliau juga mengemukan Hadits yang bermaksud:
“Tiap-tiap anak itu dilahirkan suci, maka ibu bapanyalah yang menjadikannya seorang Majusi, Nasrani dan Yahudi.”
Begitulah, kata beliau, Nabi Muhammad memperingatkan kepada setiap ibu bapa ummat Islam tentang kewajiban terhadap anak-anak. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa mengurus pendidikan anak-anak lebih dari sekedar fardhu kifayah. Beliau merujuk kepada ayat Qur’an yang berbunyi:

“Hendaklah ada di antara kamu suatu golongan yang menyeru manusia kepada kebaikan, menyuruh kepada ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar. Penyeru-penyeru itu adalah adalah orang yang mendapat kemenangan.” [Al `Imran 104]

Pendidikan menurut beliau adalah satu pimpinan jasmani dn rohani yang menuju kepada kesempurnaan dalam arti yang sesungguhnya. Pimpinan seperti itu paling kurang memerlukan dua hal. Pertama adalah tujuan tepat yang dapat mengarahkan pendidikan tersebut. Kedua adalah dasar. Akan sia-sialah pimpinan tersebut bila meninggalkan salah satu dari hal tersebut.

Tujuan pendidikan tidak dapat dicapai kecuali setelah mengetahui tujuan hidup manusia di dunia. Dalam hal ini, Mohammad Natsir selalu merujuk kepada Qur’an dan Hadits.

“Aku (Allah tidak jadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyembah-Ku.” [az-Zariyat 56]

Memperhambakan diri semata-semata kepada Allah akan menjadikan manusia sebagai hamba Allah dan inilah yang menjadi tujuan hidup manusia di dunia. Berdasarkan penghambaan itulah, maka ummat Islam berkewajiban memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka yang sedang menjalani kehidupan. Penghambaan yang dimaksud bukanlah memberi keuntungan kepada yang disembah, tetapi kepada penyembah itu sendiri yang memberikan kekuatan kepadanya dalam menghubungkan diri kepada yang disembah. Beliau mengutip ayat berikut:

“Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka ia sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya dan barangsaiap yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Mulia.” [an-Naml 40]

Mengenai penghambaan diri kepada Allah ini, beliau mengatakan: “Akan menjadi orang yang memperhabakan segenap rohani dan jasmaninya kepada Allah s.w.t. untuk kemenangan dirinya dengan arti seluas-luasnya dan yang dapat dicapai oleh manusia. Itulah tujuan hidup manusia di atas dunia dan itulah tujuan didikan yang harus kita berikan kepada anak-anak kita ummat Islam.”

Itulah, menurut beliau, “Islamiestisch Paedagogisch Ideal” yang harus memberi sinar kepada setiap individu ummat islam dalam mengemudikan perahu pendidikannya.

Berbicara tentang pendidikan islam, Mohammad Natsir selalu mengaitkan antara Barat dan Timur yang dipertentangkan oleh sebagian orang. Ada orang yang berpendapat bahwa pendidikan islam itu adalah pendidikan Timur dan pendidikan Barat adalah lawan dari pendidikan islam. Mungkin pandangan seperti itu merupakan reaksi terhadap pendidikan agama kebarat-baratan di Indonesia di mana sebagian dari hasil pendidikan ini tidak dapat diterima oleh ummat Islam. Sungguhpun demikian, itu tidak boleh diartakan bahwa Islam itu anti Barat dan pro Timur, terutama dalam bidangpendidikan. Nama bagi beliau tidak begitu penting, apakah dinamakan Barat atau Timur. Beliau menyatakan: “Timur kepunyaan Allah. Barat pun kepunyaan Allah jua. Sebagai makhluk yang bersifat hadits (baharu), kedua-duanya, Barat dan Timur, mempunyai hal yang kurang baik dan yang baik, mengandung beberapa kebaikan dan beberapa keburukan.”

Menurut beliau, seorang pendidik Islam tidak usah memperdalam-dalam dan memperbesar-besarkan antagonisme (pertentangan) antara Barat dengan Timur. Islam hanya mengenal antagonisme antara hak dan batil. Semua yang hak diterima, biar pun datang dari Barat, dan semua yang batil akan disingkirkan, walaupun datangnya dari Timur.

Dalam pandangan beliau, konsep pendidikan islam tidak parsial, tetapi universal. Ia tidaklah Timur atau pun Barat, tetapi mengambil yang baik dari mana pun asalnya. Pendidikan Barat yang bersifat efficiency tidak boleh ditolak sama sekali, hanya karena kebaratannya. Sistem pendidikan Timur yang memberi didikan terpisah dari gelombang pergaulan dan perjuangan manusia tidak boleh diterima semuanya, hanya karena ketimurannya.

Mohammad Natsir meneruskan hujjahnya dengan mengatakan bahwa bagi semua hamba Allah, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, bukan dua hal bertentangan yang harus dipisahkan, melainkan dua serangkai yang harus lengkap-melengkapi dan dilebur menjadi dua suasana yang harmonis dan seimbang.

Berdasarkan pandangan yang demikian, kita dapat melihat sikap beliau sehari-hari yang menunjukkan ciri ummatan wasatan (ummat moderat). Beliau menutup hujjah beliau dengan merujuk kepada ayat Qur’an yang bermaksud:

“Demikianlah kami jadikan kamu suatu ummat yang seimbang, adil dan harmonis, supaya kamu jadi pengawas bagi manusia dan Rasul jadi pengawas atas kamu.” [al-Baqarah 143].

Dr. Mohammad Noer

     Read More   

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: 

  • Categories

    • Economic & Finance (1)
    • Education (1)
    • Health & Care (14)
    • Info & Tips (1)
    • Public (2)
    • Technology (1)
    • Today (3)
    • uncategories (1)
  • Archives

    • April 2008
    • January 2008
    • August 2007
    • June 2007

  • Blogroll

    • Andrayogi
    • Digitalgrafis
  • Sahabat Kita

    • Aa ii
    • Andhi
    • Andryan
    • Danil
    • Erik Wahyu
    • Haruka
    • Kabumi
    • Kocin
    • Rere
    • Rusty Non
    • Sweet Orange
  • Meta

    • Log in
    • Valid XHTML
    • XFN
    • WordPress

Copyright © sahabat. All rights reserved.
Supported By : Online directory and web directory
Blog design by:AskGraphics and Sponsored by Sayap Timur